Alam memiliki ambang batas kemampuan menyediakan kebutuhan manusia, sehingga bila kita memanfaatkan secara berlebihan, akan terjadi ketidakseimbangan alam, yang akan berdampak pada bencana. Jadi berbuat baiklah terhadap alam, maka alampun akan memahami dengan perilaku baik kita.
lestarikan lingkunganmu
Alam memiliki ambang batas kemampuan menyediakan kebutuhan manusia, sehingga bila kita memanfaatkan secara berlebihan, akan terjadi ketidakseimbangan alam, yang akan berdampak pada bencana. Jadi berbuat baiklah terhadap alam, maka alampun akan memahami dengan perilaku baik kita.
Penebangan hutan yang tanpa perhitungan dan tanpa antisipasi adalah salah satu penyebab makin meluasnya hutan gundul. Semua disebabkan karena kelakuan-kelakuan manuusia yang tidak bertanggung jawab. Apakah kita akan membiarkan hal ini terus terjadi?
Tema : Perpisahan kakak kelas 3 SMAN 1 Srengat
Tujuan : Menyampaikan salam perpisahan kepada kakak kelas 3
Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Yang terhormat bapak kepala sekolah,yang kami hornati bapak/ibu guru,yang kami hormati para tamu undangan serta rekan-rekan yang berbahagia.
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita rahmat, hidayah dan taufik-Nya sehingga kita bisa hadir di tempat ini, guna melaksanakan acara perpisahan kelas 3 SMAN 1 Srengat Tahun Ajaran 2012/2013.Pertama shalawat dan salam senantiasa kita haturkan untuk junjungan kita Nabi Allah Muhammad SAW, yang telah menyelamatkan kita dari zaman jahiliyah menuju zaman zakariyah.Kedua, terima kasih untuk panitia yang telah mengizinkan saya untuk berdiri di sini menyampaikan salam perpisahan ini di depan para hadirin sekalian.
Hadirin yang berbahagia,
Ini adalah hari terakhir bagi kakak-kakak sekalian berada di sekolah ini. Namun, segala apa yang telah kita lalui bersama merupakan kenangan terindah yang tak akan terlupakan. Ada banyak hal yang belum sempat kami lakukan bersama kakak. Sungguhpun kakak adalah panutan yang baik bagi kami. Senantiasa memberi kami nasihat dan tuntunan dalam belajar. Adakah hal yang lebih berharga dari kebersamaan. Kebersamaan yang membuat kita kuat, cerdas, dan tegar dalam membangun nama baik sekolah kita.
Hadirin yang dirahmati Allah
Sebuah ungkapan yang tak asing lagi bagi kita, “dimana ada pertemuan, disitu ada perpisahan”. Dua tahun lalu kita bertemu di tempat ini, dan ditempat ini pulalah kita berpisah. Inilah takdir manusia yang tak terelakkan. Kita tak bisa melawan waktu. Biarlah waktu itu berlalu seiring dengan linangan air mata kami.
Hadirin yang Allah muliakan
Kakak-kakakku tercinta, satu pesan buat kalian. Kalian adalah alumni-alumni yang baik lagi sopan. Perlihatkanlah sifat baik lagi sopan itu kepada orang-orang di luar sana. Buatlah hal itu menjadi ciri khas bagi alumni sekolah kita. Jagalah nama baik sekolah kita dimanapun kakak memijakkan kaki. Tetapkanlah hati dan pikiran kakak dalam kejujuran dan kebenaran, niscaya kalian akan menjadi orang-orang yang sukses dan berhasil di masa depan.
Hadirin dan hadirat yang kami hormati
Sekianlah pidato dari saya. Mudah-mudahan dapat mendatangkan berkah dan manfaat bagi kita semua.Terimakasih atas perhatiannya Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan.
Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Go Green pada dasarnya adalah aksi untuk berupa penghematan penggunaan air, pengurangan polusi udara, penghematan pemakaian energi dan bahan bakar, pengurangan penggunaan bahan yang diambil dari alam (misalnya minyak bumi, dan barang yg terbuat dari bahan kayu dll), penciptaan lingkungan yang lebih meningkatkan kualitas manusia, dan sebagainya.
Go Green di Rumah
Sekitar 30 persen energi listrik di rumah digunakan untuk pendingin ruangan (tentu saja ini untuk rumah yang ber-AC). Karena itu sebaiknya dari awal rumah dirancang dengan bukaan yang memadai untuk memasukkan cahaya dan udara sehingga penggunaan listrik untuk lampu dan AC dapat dikurangi.
Suhu dalam rumah juga dapat dikurangi dengan penggunaan insulator panas. Biasanya ditempatkan di atap, berupa lapisan karet dan aluminium di bawah genteng. Penggunaan bahan ini dapat mengurangi pancaran panas ke dalam rumah. Jangan lupa kurangi penggunaan beton sebagai carport bila carportnya langsung terpapar matahari. Panas dari beton carport akan terpantul ke dalam rumah. Sebaiknya perbanyak penggunaan tanaman rumput sebagai alas di halaman atau carport.
Bila rumah menghadap barat, biasanya terpapar matahari yang cukup panas disore hari. Untuk mengurangi panas dalam rumah, gunakan second skin di jendela yang terpapar patahari. Second skin bisa berupa tirai bambu, kayu, aluminium dll yang dibuat sedemikian sehingga menahan panas matahari langsung sebelum mengenai jendela atau tembok.
Gunakan air secara optimal. Air hujan, buangan dari wastafel, kamar mandi (selain wc) dpat ditampung di bak tertentu. Kelebihannya dapat disalurkan ke dalam sumur resapan untuk menjaga ketersediaan air tanah dan mencegah banjir. Air yang ditampung dalam bak tadi masih sangat bermanfaat minimal untuk menyiram tanaman. Jadi hindarkan membuang langsung air tersebut ke got. Bila tidak punya sumur resapan, buatlah beberapa lubang kecil (diameter 10 cm, kedalaman min. 50 cm) di halaman untuk membantu air meresap ke dalam tanah. Bila dilakukan dalam skala luas, bisa mencegah banjir lho..
Hindarkan penggunaan bath tub kalau tidak perlu sekali. Mandi yang paling hemat adalah menggunakan shower. Penggunaan gayung dengan bak mandi masih lebih memboroskan air karena banyak air yang tertumpah percuma. Bila terpaksa menggunakan bak mandi, pakailah gayung yang ukurannya lebih kecil.
Perhatikan pula kran-kran air jangan sampai ada yang bocor. Cobalah kebiasaan baru untuk tidak memutar kran sampai mentok bila mencuci piring, cuci tangan dll di wastafel. Putar setengah atau kurang dari biasanya. Anda akan melihat betapa hematnya penggunaan air dengan kebiasaan baru ini.
Sedapat mungkin hindarilah penggunaan air panas untuk mandi. Iklim tropis Indonesia yang hangat, sebetulnya tidak mengharuskan kita untuk mandi dengan air hangat. Lagipula penggunaan water heater sangatlah boros listrik. Demikian juga bila harus memasak sepanci air setiap kali mandi. Bila memang memerlukan pemanas air, gunakanlah pemanas air bertenaga surya. Memang sedikit mahal awalnya, tetapi hitung-hitungannya lebih irit dan ramah lingkungan.
Lap tangan jangan dianggap remeh. Bawalah selalu sapu tangan kecil dan hindari penggunaan tissue. Tissue yang anda pakai bahannya terbuat dari kayu dan bambu. Tentu saja kita tidak mau hutan kita semakin rusak hanya karena manusia gemar memakai tissue bukan?
Di dapur, bukalah jendela saat sedang beraktifitas agar udara segar tetap mengalir. Dengan demikian anda sebetulnya tidak memerlukan cooker hood atau exhaust fan yang boros listrik dan berisik itu.
Memasak sebaiknya menggunakan pessure cooker (alat masak bertekanan). Ibu-ibu biasa menyebutnya panci presto. Alat ini dapat mempercepat proses memasakdan tentu saja menghemat bahan bakar. Alat masak yang anti lengket, jelas sangat membantu mengurangi penggunaan minyak goreng. Meski alatnya agak mahal, sesungguhnya penggunaan microwave untuk menghangat makanan masih lebih efisien dibandingkan menggunakan pemanas listrik atau kompor.
Biasakan pula untuk memilah sampah basah (organik) dan kering (anorganik). Limbah dapur seperti potongan sayur, buah, tulang ikan, makanan sisa dapat disatukan dalam kantong tersendiri. Terpisah dari sampah lain berupa kaleng, plastik, gelas, botol, besi dll. Pemisahan ini akan sangat membantu dalam proses daur ulang di tempat pembuangan akhir sampah.
Go Green di Jalan
Sekitar 2 juta orang meninggal setiap tahun di seluruh dunia karena penyakit yang disebabkan oleh udara yang kotor. Polusi udara merupakan penyebab utama penyakit kanker. 40 persen kasus asma pada anak disebabkan oleh kondisi udara yang tercemar. Polusi udara kita sudah cukup tinggi, jangan ditambah lagi. So, bila hanya ingin ke toko, kursus, sekolah, atau tempat kerja yang jaraknya tidak terlalu jauh, berjalan kaki mungkin pilihan terbaik. Atau gunakan sepeda yang tentu juga memberi dampak baik bagi kesehatan.
Bila terpaksa berkendaraan, gunakanlah kendaraan umum. Kurang comfort, gak usah nyerah. Masih bisa nebeng teman yang searah kan? Kalau gak gratis, ada kok perkumpulan nebeng (car pooling) yang menyediakan jasa nebeng pulang pergi ke kantor.
Bila semua itu memang tidak memungkinkan, barulah gunakan kendaraan pribadi. Pastikan kendaraan selalu dalam kondisi terawat untuk menjaga efisiensi penggunaan bahan bakar.
sumber saya dapat dari berbagai pihak
Urbanisasi dan usia lanjut adalah dua faktor yang amat mempengaruhi emisi gas karbon dioksida dunia selama 40 tahun mendatang. Hingga pertengahan abad ini, diperkirakan jumlah populasi dunia akan meningkat hingga lebih dari tiga miliar orang, dengan kenaikan yang amat pesat di daerah perkotaan.
Untuk mengetahui bagaimana perubahan demografi ini berdampak pada perubahan iklim, tim ilmuwan Amerika itu mengembangkan skenario pertumbuhan ekonomi, penggunaan energi dan emisi menggunakan simulasi komputer (model Populasi-Lingkungan-Teknologi atau PET).
Mereka juga menganalisis data dari survei yang mencakup 34 negara bagian dan perwakilan dari 61 persen populasi dunia untuk membuat estimasi karakteristik ekonomi dari tipe rumah tangga, termasuk suplai tenaga kerja serta kebutuhan barang konsumsi.
Secara keseluruhan, mereka menemukan, jika pertumbuhan populasi dapat mengikuti jalur pertumbuhan paling lambat yang diperkirakan oleh pakar demografi di Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada 2050 mereka membantu memangkas 16-29 persen dari penurunan emisi yang diperlukan untuk menjaga temperatur tetap aman bagi kelangsungan hidup manusia di bumi. "Jika pertumbuhan populasi global melambat, hal itu tentu saja tak memecahkan masalah iklim. Namun itu dapat memberikan kontribusi, terutama dalam jangka panjang," kata Brian O'Neill, dari National Center for Atmospheric Research di Boulder, Colorado.
Tim itu menemukan bahwa pertumbuhan populasi urban dapat menyebabkan kenaikan emisi CO2 hingga 25 persen di sejumlah negara berkembang. Sebaliknya, orang usia lanjut dapat mengurangi tingkat emisi sampai 20 persen di sejumlah negara industri. Hal ini berkaitan dengan produktivitas, karena orang tua memiliki produktivitas tenaga kerja rendah, dan diasosiasikan dengan peningkatan ekonomi yang lebih lambat.
Mungkin anda pernah membayangkan berada di dalam mobil yang tertutup rapat pada siang hari. Sinar matahari dengan leluasa dapat memasuki ruangan mobil melalui kaca mobil, sehingga menyebabkan udara di dalam mobil menjadi lebih panas. Udara di dalam mobil menghangat, karena panas sinar matahari yang masuk tidak dapat leluasa keluar. Sehingga panas tersebut terperangkap di dalam mobil.
Demikian halnya dengan pemanasan global. Matahari memancarkan radiasinya ke bumi menembus lapisan atmosfer bumi. Radiasi tersebut akan dipantulkan kembali ke angkasa, namun sebagian gelombang tersebut diserap oleh gas rumah kaca, yaitu CO2, CH4, N2O, HFCs dan SF4 yang berada di atmosfer. Sebagai akibatnya gelombang tersebut terperangkap di dalam atmosfer bumi. Peristiwa ini terjadi berulang-ulang, sehingga menyebabkan suhu rata-rata di permukaan bumi meningkat. Peristiwa inilah yang sering disebut dengan pemanasan global.
Apakah Penyebab Pemanasan Global?
Pemanasan global merupakan fenomena global yang disebabkan oleh aktivitas manusia di seluruh dunia, pertambahan populasi penduduk, serta pertumbuhan teknologi dan industri. Oleh karena itu peristiwa ini berdampak global. Beberapa aktivitas manusia yang menyebabkan terjadinya pemanasan global terdiri dari:
Konsumsi energi bahan bakar fosil. Sektor industri merupakan penyumbang emisi karbon terbesar, sedangkan sektor transportasi menempati posisi kedua. Menurut Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (2003), konsumsi energi bahan bakar fosil memakan sebanyak 70% dari total konsumsi energi, sedangkan listrik menempati posisi kedua dengan memakan 10% dari total konsumsi energi. Dari sektor ini, Indonesia mengemisikan gas rumah kaca sebesar 24,84% dari total emisi gas rumah kaca.
Indonesia termasuk negara pengkonsumsi energi terbesar di Asia setelah Cina, Jepang, India dan Korea Selatan. Konsumsi energi yang besar ini diperoleh karena banyaknya penduduk yang menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energinya, walaupun dalam perhitungan penggunaan energi per orang di negara berkembang, tidak sebesar penggunaan energi per orang di negara maju. Menurut Prof. Emil Salim, USA mengemisikan 20 ton CO2/orang per tahun dengan jumlah penduduk 1,1 milyar penduduk, Cina mengemisikan 3 ton CO2/orang per tahun dengan jumlah 1,3 milyar penduduk, sementara India mengemisikan 1,2 ton CO2/orang dengan jumlah 1 milyar penduduk.
Dengan demikian, banyaknya gas rumah kaca yang dibuang ke atmosfer dari sektor ini berkaitan dengan gaya hidup dan jumlah penduduk. USA merupakan negara dengan penduduk yang mempunyai gaya hidup sangat boros, dalam mengkonsumsi energi yang berasal dari bahan bakar fosil, berbeda dengan negara berkembang yang mengemisikan sejumlah gas rumah kaca, karena akumulasi banyaknya penduduk.
Sampah. Sampah menghasilkan gas metana (CH4). Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana. Sampah merupakan masalah besar yang dihadapi kota-kota di Indonesia. Menurut Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada tahun 1995 rata-rata orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 0,8 kg/hari dan pada tahun 2000 terus meningkat menjadi 1 kg/hari. Dilain pihak jumlah penduduk terus meningkat sehingga, diperkirakan, pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan mencapai 500 juta kg/hari atau 190 ribu ton/tahun. Dengan jumlah ini maka sampah akan mengemisikan gas metana sebesar 9500 ton/tahun. Dengan demikian, sampah di perkotaan merupakan sektor yang sangat potensial, mempercepat proses terjadinya pemanasan global.
Kerusakan hutan. Salah satu fungsi tumbuhan yaitu menyerap karbondioksida (CO2), yang merupakan salah satu dari gas rumah kaca, dan mengubahnya menjadi oksigen (O2). Saat ini di Indonesia diketahui telah terjadi kerusakan hutan yang cukup parah. Laju kerusakan hutan di Indonesia, menurut data dari Forest Watch Indonesia (2001), sekitar 2,2 juta/tahun. Kerusakan hutan tersebut disebabkan oleh kebakaran hutan, perubahan tata guna lahan, antara lain perubahan hutan menjadi perkebunan dengan tanaman tunggal secara besar-besaran, misalnya perkebunan kelapa sawit, serta kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Dengan kerusakan seperti tersebut diatas, tentu saja proses penyerapan karbondioksida tidak dapat optimal. Hal ini akan mempercepat terjadinya pemanasan global.
Menurut data dari Yayasan Pelangi, pada tahun 1990, emisi gas CO2 yang dilepaskan oleh sektor kehutanan, termasuk perubahan tata guna lahan, mencapai 64 % dari total emisi CO2 Indonesia yang mencapai 748,61 kiloTon. Pada tahun 1994 terjadi peningkatan emisi karbon menjadi 74%.
Pertanian dan peternakan. Sektor ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca melalui sawah-sawah yang tergenang yang menghasilkan gas metana, pemanfaatan pupuk serta praktek pertanian, pembakaran sisa-sisa tanaman, dan pembusukan sisa-sisa pertanian, serta pembusukan kotoran ternak. Dari sektor ini gas rumah kaca yang dihasilkan yaitu gas metana (CH4) dan gas dinitro oksida (N20). Di Indonesia, sektor pertanian dan peternakan menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 8.05 % dari total gas rumah kaca yang diemisikan ke atmosfer.
Dampak Pemanasan Global
Sebagai sebuah fenomena global, dampak pemanasan global dirasakan oleh seluruh umat manusia di dunia, termasuk Indonesia. Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan, menempatkan Indonesia dalam kondisi yang rentan menghadapi terjadinya pemanasan global. Sebagai akibat terjadinya pemanasan global, Indonesia akan menghadapi peristiwa :
Pertama, Kenaikan temperatur global, menyebabkan mencairnya es di kutub utara dan selatan, sehingga mengakibatkan terjadinya pemuaian massa air laut, dan kenaikan permukaan air laut. Hal ini akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang, serta terjadinya pemutihan terumbu karang (coral bleaching), dan punahnya berbagai jenis ikan. Selain itu, naiknya permukaan air laut akan mengakibatkan pulau-pulau kecil dan daerah landai di Indonesia akan hilang. Ancaman lain yang dihadapi masyarakat yaitu memburuknya kualitas air tanah, sebagai akibat dari masuknya atau merembesnya air laut, serta infrastruktur perkotaan yang mengalami kerusakan, sebagai akibat tergenang oleh air laut.
Kedua, Pergeseran musim sebagai akibat dari adanya perubahan pola curah hujan. Perubahan iklim mengakibatkan intensitas hujan yang tinggi pada periode yang singkat serta musim kemarau yang panjang. Di beberapa tempat terjadi peningkatan curah hujan sehingga meningkatkan peluang terjadinya banjir dan tanah longsor, sementara di tempat lain terjadi penurunan curah hujan yang berpotensi menimbulkan kekeringan. Sebagian besar Daerah Aliran Sungai (DAS) akan terjadi perbedaan tingkat air pasang dan surut yang makin tajam. Hal ini mengakibatkan meningkatnya kekerapan terjadinya banjir atau kekeringan. Kondisi ini akan semakin parah apabila daya tampung badan sungai atau waduk tidak terpelihara akibat erosi.
Kedua peristiwa tersebut akan menimbulkan dampak pada beberapa sektor, yaitu :
Kehutanan. Terjadinya pergantian beberapa spesies flora dan fauna. Kenaikan suhu akan menjadi faktor penyeleksi alam, dimana spesies yang mampu beradaptasi akan bertahan dan, bahkan kemungkinan akan berkembang biak dengan pesat. Sedangkan spesies yang tidak mampu beradaptasi, akan mengalami kepunahan. Adanya kebakaran hutan yang terjadi merupakan akibat dari peningkatan suhu di sekitar hutan, sehingga menyebabkan rumput-rumput dan ranting yang mengering mudah terbakar. Selain itu, kebakaran hutan menyebabkan punahnya berbagai keanekaragaman hayati.
Perikanan. Peningkatan suhu air laut mengakibatkan terjadinya pemutihan terumbu karang, dan selanjutnya matinya terumbu karang, sebagai habitat bagi berbagai jenis ikan. Suhu air laut yang meningkat juga memicu terjadinya migrasi ikan yang sensitif terhadap perubahan suhu secara besar-besaran menuju ke daerah yang lebih dingin. Peristiwa matinya terumbu karang dan migrasi ikan, secara ekonomis, merugikan nelayan karena menurunkan hasil tangkapan mereka.
Pertanian. Pada umumnya, semua bentuk sistem pertanian sensitif terhadap perubahan iklim. Perubahan iklim berakibat pada pergeseran musim dan perubahan pola curah hujan. Hal tersebut berdampak pada pola pertanian, misalnya keterlambatan musim tanam atau panen, kegagalan penanaman, atau panen karena banjir, tanah longsor dan kekeringan. Sehingga akan terjadi penurunan produksi pangan di Indonesia. Singkatnya, perubahan iklim akan mempengaruhi ketahanan pangan nasional.
Kesehatan. Dampak pemanasan global pada sektor ini yaitu meningkatkan frekuensi penyakit tropis, misalnya penyakit yang ditularkan oleh nyamuk (malaria dan demam berdarah), mewabahnya diare, penyakit kencing tikus atau leptospirasis dan penyakit kulit. Kenaikan suhu udara akan menyebabkan masa inkubasi nyamuk semakin pendek sehingga nyamuk makin cepat untuk berkembangbiak. Bencana banjir yang melanda akan menyebabkan terkontaminasinya persediaan air bersih sehingga menimbulkan wabah penyakit diare dan penyakit leptospirosis pada masa pasca banjir. Sementara itu, kemarau panjang akan mengakibatkan krisis air bersih sehingga berdampak timbulnya penyakit diare dan penyakit kulit. Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) juga menjadi ancaman seiring dengan terjadinya kebakaran hutan.
Selain dampak diatas, tercatat beberapa kejadian luar biasa yang mengindikasikan terjadinya pemanasan global, yaitu :
- Tahun 2005 merupakan tahun terpanas. NASA melaporkan bahwa temperatur rata-rata global telah meningkat 0,060 C.
- Pencairan Artik terbesar terjadi di tahun 2005. Hasil foto salah satu satelit menunjukkan area yang tertutup es permanen merupakan area tersempit pada akhir musim panas tahun 2005.
- Tahun 2005 merupakan tahun dengan air di Karibia terpanas, lebih lama dari yang pernah terjadi dan menyebabkan terjadinya pemutihan karang (coral bleaching) besar-besaran di sepanjang wilayah mulai dari Karibia hingga Florida Keys, Amerika Serikat.
- Tahun 2005 tercatat sebagai tahun dengan nama badai terbanyak. Terdapat 26 nama badai yang melampaui daftar nama resmi. Pada tahun ini juga terdapat sekitar 14 badai, yang disebut sebagai badai hebat (hurricane), karena memiliki kecepatan angin melebihi 119 km/jam. Rekor tahun sebelumnya hanya 12 badai dalam setahun. Tahun 2005 juga merupakan tahun dengan kategori 5 badai terbanyak dengan kecepatan angin 249 km/jam. Tahun 2005 merupakan tahun yang mengalami kerugian termahal akibat badai.
- Tahun 2005 merupakan tahun terkering yang pernah terjadi sejak beberapa dekade lalu di Amazon, Amerika Selatan. Dan Amerika bagian barat menderita akibat kekeringan yang panjang.
Bumi Makin Panas (booklet). 2004. Diterbitkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup, JICA dan Yayasan Pelangi.
Indonesia dan Perubahan Iklim (booklet)dan dari berbagai sumber